Senin, 09 Mei 2016

“BERTUQ – KETEMUQ PENGOBATAN KHAS MASYARAKAT SASAK”

Berbagai macam cara masyarakat dalam menghadapi musibah terutama dalam musibah sakit. Di daerah Nusa Tenggara Barat khususnya suku sasak yang ada di Kabupaten Lombok Timur Kecamatan Aikmel, salah satu kebiasaan, adat istiadat maupun tradisi di daerah ini jika salah satu keluarga dari mereka yang sakit maka mereka tidak langsung pergi ke rumah sakit maupun dokter tetapi pertama yang di lakukan masyarakatnya yakni datang ke rumah “Dedikon” (dukun sasak) atau tabib untuk melakukan pengobatan ala dedikon tersebut seperti “Berbertuq” atau untuk mengetahui apa yang menyebabkan keluarga mereka sakit (Ketemuq).
Bertuq dapat di artikan sebagai langkah atau cara untuk mengetahui seseorang tersebut dapat di katakan terkena atau menderita penyakit (ketemuq). Sedangkan Ketemuq yakni simbol, jenis penyakit yang di alami oleh pasien. Biasanya di dalam bertuq ini penyakit yang dapat di ramal atau di tentukan seperti sakit kepala (pusing), muntah, sakit perut dan lain sebagainya.
Untuk menentukan sakit apa yang di derita oleh pasien dedikon biasanya melakukan bertuq pasien dengan cara sebagai berikut :
1.      Jika pasiennya prempuan dan dedikonnya laki-laki maka dedikon tersebut akan meluruskan rambut si pasien dan memilih rambut pasien setebal telunjuk jari tangan yang nantinya akan di tarek ke atas dan dedikonnya sambil membaca ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk mengetahui pasien ketemuq dengan siapa (pasien menderita penyakit apa).
2.      Jika pasiennya laki-laki dan dedikonnya laki-laki pula maka dedikon akan mencari seorang prempuan yang panjang rambutnya untuk membantu si dedikon tersebut dengan cara dedikon meluruskan rambut si prempuan tersebut dan di pukul ke kepala si pasien sebanyak sembilan kali selanjutnya dedikon akan memilih rambut prempuan tesebut setebal telunjuk jari tangan yang nantinya akan di tarek ke atas dan dedikonnya sambil membaca ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk mengetahui pasien ketemuq dengan siapa (pasien menderita penyakit apa). Begitu juga dengan pasien prempuan yang rambutnya pendek.
3.      Jika pasiennya prempuan dan dedikonnya prempuan pula maka dedikon tersebut akan memilih rambutnya sendiri dan memukulnya ke kepala pasien sebanyak sembilan kali selanjutnya dedikon akan memilih rambutnya setebal telunjuk jari jari tangan yang nantinya akan di tarek ke atas dan dedikonnya sambil membaca ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk mengetahui pasien ketemuq dengan siapa (pasien menderita penyakit apa), tetapi bisa di lakukan juga dengan rambut si pasien. Dan begitu juga dengan pasien laki-laki.

Sedangkan menurut salah satu Dedikon (Tabib) di daerah saya yang bernama Amaq. Mahni yaitu,  “yang namanya ketemuq itu sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang kita karena dulu tidak ada pengobatan atau dokter seperti zaman modern ini. dan pada waktu kita tidur roh kita tersebut keluar dari badan kita sehingga yang ada di badan kita itu hanyalah nafas, terus roh kita yang keluar tersebut berkeliaran sehingga bertemu dengan roh yang sudah meninggal maupun bodo bakek (jin). Sehingga dari kata ketemu/bertemu itu, muncullah kata ketemuq/bertuq dan manfaat adanya bertuq-ketemuq ini di lihat dari sisi ekonomi, bertuq-ketemuq ini sangatlah membantu pengobatan bagi orang – orang yang kurang mampu atau orang miskin karena dalam pengobatan dengan cara ini kita tidak mengeluarkan uang yang banyak, kita hanya di tuntut mengeluarkan uang se-ikhlas kita saja, tentu membayarnya pula tidak hanya menggunakan uang melainkan bisa menggunakan bahan pokok, benda dan lain sebagainya, cara – cara melakukan pengobatannya yakni, jika dedikon (Tabib)nya perempuan maka tabib tersebut akan memukul rambutnya ke kepala pasien dengan 9 kali pukulan yang pelan sambil membaca mantra dan memilih rambut secukupnya untuk di tarik ke atas sedangkan dedikon (tabib)nya laki – laki maka tabib tersebut bisa langsung melakukan bertuq – ketemuq tanpa memukul rambutnya ke kepala pasien. Dan jika perkiraan penyakitnya tepat maka si pasien akan di bacakan do’a-do’a oleh si tabib. Biasa perkiraan tabibnya tepat, biasa terdengar suara “TOKK” dari kepala si tabib atau si pasien.

Jadi dari penjelasan di atas dapat kita ambil nilai – nilai yang terkandung di dalamnya, yakni nilai sosial, nilai religius, nilai ekonomi dan sebagainya. dimana nilai sosialnya, dapat memperat tali persaudaraan, menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membantu, sedangkan nilai religiusnya, di lihat dari keyakinan masyarakatnya melakukan bertuq dengan membaca kalimat Kitab Suci Alqur’an dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa sehingga dapat mengajarkan kita bahwa untuk penyakit tersebut datang dari Yang Maha Kuasa dan kesembuhan itu hanya dari Yang Maha Kuasa pula sehingga kita harus rajin Beribadah dan nilai ekonominya yakni Sangat membantu masyarakat yang kurang ekonominya, karena tidak perlu ke dokter maupun rumah sakit dan biaya yang kita keluarkan hanya seihklas kita atau biayanya tidak hanya dari uang saja melainkan dapat berupa bahan pokok atau benda-benda yang lainnya.


Sehingga saran saya, kita sebagai generasi penerus dari budaya, adat istiadat yang di miliki oleh daerah kita masing – masing, mari kita jaga dan melestarikannya agar menjadi corak, simbol atau ciri khas dari daerah kita tetap ada dan dapat di rasakan oleh generasi berikutnya.

Tidak ada komentar: