Berbagai macam
cara masyarakat dalam menghadapi musibah terutama dalam musibah sakit. Di
daerah Nusa Tenggara Barat khususnya suku sasak yang ada di Kabupaten Lombok
Timur Kecamatan Aikmel, salah satu kebiasaan, adat istiadat maupun tradisi di
daerah ini jika salah satu keluarga dari mereka yang sakit maka mereka tidak
langsung pergi ke rumah sakit maupun dokter tetapi pertama yang di lakukan
masyarakatnya yakni datang ke rumah “Dedikon” (dukun sasak) atau tabib untuk
melakukan pengobatan ala dedikon tersebut seperti “Berbertuq” atau untuk
mengetahui apa yang menyebabkan keluarga mereka sakit (Ketemuq).
Bertuq
dapat di artikan sebagai langkah atau cara untuk mengetahui seseorang tersebut
dapat di katakan terkena atau menderita penyakit (ketemuq). Sedangkan Ketemuq
yakni simbol, jenis penyakit yang di alami oleh pasien. Biasanya di dalam
bertuq ini penyakit yang dapat di ramal atau di tentukan seperti sakit kepala
(pusing), muntah, sakit perut dan lain sebagainya.
Untuk
menentukan sakit apa yang di derita oleh pasien dedikon biasanya melakukan
bertuq pasien dengan cara sebagai berikut :
1. Jika
pasiennya prempuan dan dedikonnya laki-laki maka dedikon tersebut akan
meluruskan rambut si pasien dan memilih rambut pasien setebal telunjuk jari
tangan yang nantinya akan di tarek ke atas dan dedikonnya sambil membaca
ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk mengetahui pasien ketemuq dengan
siapa (pasien menderita penyakit apa).
2. Jika
pasiennya laki-laki dan dedikonnya laki-laki pula maka dedikon akan mencari
seorang prempuan yang panjang rambutnya untuk membantu si dedikon tersebut
dengan cara dedikon meluruskan rambut si prempuan tersebut dan di pukul ke
kepala si pasien sebanyak sembilan kali selanjutnya dedikon akan memilih rambut
prempuan tesebut setebal telunjuk jari tangan yang nantinya akan di tarek ke
atas dan dedikonnya sambil membaca ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk
mengetahui pasien ketemuq dengan siapa (pasien menderita penyakit apa). Begitu
juga dengan pasien prempuan yang rambutnya pendek.
3. Jika
pasiennya prempuan dan dedikonnya prempuan pula maka dedikon tersebut akan
memilih rambutnya sendiri dan memukulnya ke kepala pasien sebanyak sembilan
kali selanjutnya dedikon akan memilih rambutnya setebal telunjuk jari jari
tangan yang nantinya akan di tarek ke atas dan dedikonnya sambil membaca
ayat-ayat suci ALQUR’AN atau mantra untuk mengetahui pasien ketemuq dengan
siapa (pasien menderita penyakit apa), tetapi bisa di lakukan juga dengan
rambut si pasien. Dan begitu juga dengan pasien laki-laki.
Sedangkan
menurut salah satu Dedikon (Tabib) di daerah saya yang bernama Amaq. Mahni
yaitu, “yang namanya ketemuq itu
sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang kita karena dulu tidak ada
pengobatan atau dokter seperti zaman modern ini. dan pada waktu kita tidur roh
kita tersebut keluar dari badan kita sehingga yang ada di badan kita itu
hanyalah nafas, terus roh kita yang keluar tersebut berkeliaran sehingga
bertemu dengan roh yang sudah meninggal maupun bodo bakek (jin). Sehingga dari
kata ketemu/bertemu itu, muncullah kata ketemuq/bertuq dan manfaat adanya
bertuq-ketemuq ini di lihat dari sisi ekonomi, bertuq-ketemuq ini sangatlah
membantu pengobatan bagi orang – orang yang kurang mampu atau orang miskin karena
dalam pengobatan dengan cara ini kita tidak mengeluarkan uang yang banyak, kita
hanya di tuntut mengeluarkan uang se-ikhlas kita saja, tentu membayarnya pula
tidak hanya menggunakan uang melainkan bisa menggunakan bahan pokok, benda dan
lain sebagainya, cara – cara melakukan pengobatannya yakni, jika dedikon
(Tabib)nya perempuan maka tabib tersebut akan memukul rambutnya ke kepala
pasien dengan 9 kali pukulan yang pelan sambil membaca mantra dan memilih
rambut secukupnya untuk di tarik ke atas sedangkan dedikon (tabib)nya laki –
laki maka tabib tersebut bisa langsung melakukan bertuq – ketemuq tanpa memukul
rambutnya ke kepala pasien. Dan jika perkiraan penyakitnya tepat maka si pasien
akan di bacakan do’a-do’a oleh si tabib. Biasa perkiraan tabibnya tepat, biasa
terdengar suara “TOKK” dari kepala si tabib atau si pasien.
Jadi
dari penjelasan di atas dapat kita ambil nilai – nilai yang terkandung di
dalamnya, yakni nilai sosial, nilai religius, nilai ekonomi dan sebagainya.
dimana nilai sosialnya, dapat memperat tali persaudaraan, menumbuhkan rasa
saling percaya dan saling membantu, sedangkan nilai religiusnya, di lihat dari
keyakinan masyarakatnya melakukan bertuq dengan membaca kalimat Kitab Suci
Alqur’an dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa sehingga dapat mengajarkan
kita bahwa untuk penyakit tersebut datang dari Yang Maha Kuasa dan kesembuhan
itu hanya dari Yang Maha Kuasa pula sehingga kita harus rajin Beribadah dan
nilai ekonominya yakni Sangat membantu masyarakat yang kurang ekonominya, karena
tidak perlu ke dokter maupun rumah sakit dan biaya yang kita keluarkan hanya
seihklas kita atau biayanya tidak hanya dari uang saja melainkan dapat berupa
bahan pokok atau benda-benda yang lainnya.
Sehingga
saran saya, kita sebagai generasi penerus dari budaya, adat istiadat yang di
miliki oleh daerah kita masing – masing, mari kita jaga dan melestarikannya
agar menjadi corak, simbol atau ciri khas dari daerah kita tetap ada dan dapat
di rasakan oleh generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar